Rabu, 13 April 2011

Sebungkus Asinan, Sebuah Teguran

‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’

Subhanallah, kalimat itu selalu mampu menjadi pengingat bahwa terkadang masih jauh hati ini dari rasa syukur. Meskipun bukti-bukti karunia-Nya disebut jelas dalam ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Astaghfirullah.....

Siapa bilang air hujan akan membuat kita demam?itu hanya sugesti,itulah perkataan saya dalam hati sore ini. Demam itu karena virus, dan air hujan bukan virus, maka tak apalah hujan-hujanan sedikit sore ini, toh hanya gerimis. Tapi kemudian teringat juga bahwa memang benar air hujan bukan virus, dan air hujan tak layak disalahkan atas demamnya seseorang, tapi ini Jakarta, dimana polusi sudah diatas batas rata-rata, dimana air hujan itu akan bercampur dengannya sebelum jatuh ke tanah dan kepala saya. jadi kalau karena kehujanan kita akan sakit, itu logis juga. Hmm...pikiran manusia kadang memang rentan terhadap asumsi dan batas yang dibuatnya sendiri.

Ah sudahlah... Cukup sudah membahas hujan. Tujuan sebenarnya adalah jalan saja, jalan dari kantor ke kost sore ini di bawah hujan yang masih gerimis, dengan mampir ke suatu tempat terlebih dahulu. Kenapa kali ini memilih berjalan lagi, karena dengan berjalan saya bisa mencuri waktu untuk me-review kembali hari ini. Rasanya seharian berlalu dengan sangat cepat, tapi seolah-olah belum ada yang dilakukan. Kita selalu berinteraksi dengan orang lain, jadi sebenarnya wajar jika dalam rutinitas sehari-hari kadang ada permasalahan, yang seringkali terlalu menyita perhatian kita, membuat seolah-olah semua hal terasa sulit. Seringkali saya terlalu berlebihan menyikapinya. Namun kali ini mungkin saya diingatkan bahwa setiap kesulitan itu datang bersama penyelesaiannya, bersama kemudahannya. Apalagi yang perlu diragukan jika itu adalah janji Allah.

Segala hal membutuhkan sebuah proses, tak semuanya berjalan sesuai yang kita inginkan. Kadang kita melakukan kesalahan, dan itu wajar. Yang terpenting adalah bagaimana mempertanggungjawabkan kesalahan itu dan berusaha tidak mengulanginya di masa yang akan datang. Saya mempercayai bahwa seperti itulah konsepnya, dalam permasalahan seperti apapun. Namun kadangkala konsep itu terlupa dengan sendirinya. Begitu mudah terserang badmood manakala benar-benar menghadapi sesuatu diluar rencana, yang sebenarnya bukan permasalahan besar, hanya rutinitas biasa yang akan selesai juga nantinya, hanya butuh proses berikut prosedurnya.

Mungkin karena itu saya memilih untuk mengunjungi suatu tempat sebelum pulang sore ini. Tempat sederhana dimana kita bisa melihat anak-anak yang biasa mengamen di bus-bus kota juga sebenarnya berjuang untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Disana saya menemukan bahwa saya kecil dibanding mereka. Kalau hal-hal kecil saja kadangkala membuat suasana hati kadang berubah menjadi buruk, bagaimana kalau saya yang berada di posisi mereka. Tak hanya itu, sore ini teramat malu karena salah seorang disana ternyata membawakan sesuatu untuk saya. Sebungkus asinan betawi. Tak bisa berkata apa-apa saat menerimanya. Saya bahkan baru ingat kalau pernah membicarakan tentang asinan betawi beberapa waktu lalu dan hari ini dibawakannya untuk saya. Dan siang tadi saat di kantor juga sempat membahas makanan ini bersama salah seorang teman. Ya Rabb....ternyata di tengah-tengah keterbatasan, masih selalu ada ruang untuk berbagi apapun termasuk keceriaan sekalipun.

Lalu sebungkus asinan itu saya bawa pulang, bersama pelajaran dan teguran yang tak akan pernah saya lupa. Bahwa sikap adalah pilihan kita yang muncul atas kemampuan kita dalam mengelola rasa.

13-Apr-2011
*menjelang tengah malam..

Selasa, 15 Maret 2011

Maaf

Sekian banyak kosakata, isyarat,dan rangkaian sajak-sajak
Entah kenapa belum mengurainya dengan tepat
Harap, prasangka,dan kecewa
Terkadang muncul tak sesuai dengan sketsa awalnya
Aku selalu tahu bahwa karena keterbatasanku kadang mencipta praduga
Karena ketidaktahuanku ternyata mencipta luka
Dan sebab ketidakfahamanku ternyata penyebab ketidakenakan..
Serta diamku yang kadang mencipta tanya tanpa jawab dan banyak bicara ku yang mungkin justru membingungkan
Maaf
Maaf
Maaf
Maaf atas semua kesalahan yg pada hakikatnya tak pernah menyengaja..

Minggu, 06 Februari 2011

Hujan Pagi tadi

Ingin kuasosiasikan cinta lewat hujan pagi tadi
Karena tak pernah sekalipun aku mampu mendefinisikannya, apalagi hanya sekedar lewat kata
Dan hujan pagi tadi....
Aku masih sangat menyukainya meskipun banyak rencana tertunda atau mungkin aku lewatkan karenanya,
Aku masih takzim mendengar suaranya meskipun aku tahu mungkin dia akan menimbulkan banjir entah dimana,
Aku masih ingin memandangnya lewat jendela meskipun aku tahu tetesannya mungkin saja bisa membuatku tak enak badan,
Karena aku masih sangat percaya hakikat penciptaannya adalah anugerah bagi semesta,
Dan kalaupun kadang ia menimbulkan bencana, luka, dan kehilangan, itu bukan kesalahan sang hujan
Karena ia hanya melaksanakan titah Sang Penciptanya yang mungkin ingin menguji manusia.

Ya..seperti itulah aku mencintai hujan.

Kamis, 27 Januari 2011

Dalam Mihrab Cinta (lyrics) - Afgan

demi cinta ku pergi
tinggalkanmu relakanmu
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
reff:
suatu saat ku kan kembali
sungguh sebelum aku mati
dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

suatu hari kau kan mengerti
siapa yang paling mencintai
dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya

karena cinta ku ikhlaskan
segalanya kepadanya
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati

repeat reff [2x]

suatu saat ku kan kembali
sungguh sebelum aku mati
dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

suatu hari kau kan mengerti
siapa yang paling mencintai
dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya semoga semoga

Kamis, 13 Januari 2011

Tiga Bait tentang Rasa

Seuntai harap
Yang terpilin jadi seberkas asa
Yang terwarnai lara, terhias luka
Namun kuputuskan saja untuk terangkai menjadi untaian cerita
Yang pangkalnya entah berujung kemana

Sebait kisah
Yang alurnya tersimpan sendu
Berharap waktu membawanya berlalu
Menyisakan makna yang bermuara ke sebuah ikhtisar
Bahwa hidup adalah kumpulan dari penantian, pilihan, dan penerimaan

Sekelebat kenangan
Hadirnya tanpa alasan dan pemberitahuan
Yang prosesnya tak selalu mudah
Yang mengajarkan tuk selalu belajar menjadi pembelajar
Karena hidup adalah untuk masa depan
Dan biar kenangan sekedar jadi kekuatan
Yang menguatkan dan mengingatkan untuk selalu menujuNya

Jumat, 07 Januari 2011

Mari Peduli, Mari Berbagi......

Assalamu’alaykum Wr.Wb.
Mas-Mas, Mbak-Mbak, Bapak/Ibu sekalian....

Bagi yang berkesempatan berbagi, kami mengajak rekan-rekan sekalian untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk acara Bakti Sosial ke Rumah Singgah bagi Anak Jalanan di Gang Tongkang Senen yang insyaallah akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Rabu, 12 Januari 2011.
Waktu : Pukul 17.45 – 19.00
Rangkaian Acara : Ramah tamah, penyampaian donasi dan Sholat Maghrib berjamaah

Bagi rekan-rekan yang berkenan menyampaiakan donasi bisa disampaikan melalui :
•Rekening Bank BRI Cabang Gatot Subroto an. Lilis Tisnowati (0359-01-017775-50-8).
•Disampaikan langsung melalui
- Annisaningrum Yuliastuti (DJPU_Kemenkeu)
- Khomsun Arifin (DJBC_Kemenkeu)
- Andriyani Widyaningsih/Dian Rahayu Nugraheni/Analis Indriatun (Itjen_Kemenkeu)
- Muhammad Nurcholis (DJP_Kemenkeu)
- Muhammad Iqbal Arrizqi Bsr (Setjen_Kemenkeu)
- Salman Alfarisi (Setjen_Kemenkeu)
- Indri Rahmawati (Bappepam-LK_Kemenkeu)
- Niken Kusuma Astuti (DJP_Kemenkeu)

Konfirmasi transfer dan konfirmasi kehadiran dalam acara Baksos tersebut dapat melalui sms ke 081386446279 atau ke lilis.tisnowati@gmail.com untuk informasi lebih lanjut.

Wassalamu’alaykum Wr.Wb.

Kamis, 06 Januari 2011

Sedikit Cerita, Tentang Sore ini, Kita,dan Mereka

Sore yang cerah,...
Terus terang saya bingung mengawali darimana memulai coretan-coretan ini,jadi saya pilih pernyataan diatas, basa basi tapi toh begitulah keadaan sebenarnya, sore ini memang cerah.
Kantor, kost/kontrakan/rumah, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata adalah tempat-tempat yang sepertinya selalu mengisi hidup kita sekarang-sekarang ini. Dan bagi kawan-kawan yang berada di Jakarta, tak lupa saya tambahkan satu tempat lagi yaitu jalan, entah dilewati dengan cara naik kendaraan umum, kendaraan pribadi, maupun benar-benar berjalan kaki. Dan sore ini saya memilih yang ketiga. Kalau saya pikir lagi, pilihan tadi sore itu cukup aneh dan belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bagaimana tidak, kantor ke kost bukanlah jarak yang dibilang cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan, meskipun jika dijangkau dengan kendaraan umum juga tidak jauh, atau jika ditempuh dengan bajaj atau ojek cukup dengan biaya Rp 12.000-Rp 15.000.

Sebenarnya saya memang merencanakan mengunjungi suatu tempat sepulang kerja, meskipun saya tidak merencanakan menjadi pedestrian sore ini . Saya berencana mengunjungi suatu tempat yang sulit saya jangkau kalau naik kendaraan umum tanpa berjalan. Sebuah tempat yang letaknya dekat dengan jalan besar yang menghubungkan Jakarta Timur dan Jakarta Pusat, namun harus melewati gang kecil dan kumuh yang tidak menarik perhatian. Sebuah tempat yang berada di perempatan besar di pusat kota Jakarta, di dekat stasiun besar, dekat pusat pemerintahan, namun di sepanjang itu tanahnya becek dan akan kesulitan bila dilewati dengan high heels modis. Tempat yang saya kenal melalui beberapa teman dari dari sebuah instansi pemerintah yang ber-kantor pusat di Rawamangun yang pada bulan Ramadhan kemarin telah terlebih dahulu mengadakan sebuah kegiatan disana.

Dan sore ini tak lebih dari sepuluh menit saya mampir disana, untuk kemudian memutuskan berjalan sampai ke tempat kost saya. Keputusan dengan beberapa pertimbangan yang saya anggap mendukung. Pertama, kebetulan saya pulang dengan memakai sandal jepit, memudahkan pergerakan saya di lokasi becek itu. Kedua, karena sejujurnya saya ingin mencuri waktu sambil berjalan untuk berdamai dengan pikiran saya sendiri mengenai suatu kejadian sebelumnya, sebuah kejadian yang muncul karena saya melupakan hal yang mungkin kecil tapi ternyata perlu kita perhatikan. Ini karena kadang saya berpikir akan bisa bertanya ke orang-orang di sekitar saya untuk hal-hal yang saya anggap sepele seperti tadi. Namun bagaimana kalau ternyata berada dalam kondisi dimana benar-benar tidak ada orang untuk ditanyai?. Ya sudahlah, ini sebuah pelajaran berharga. Jika tak pernah jatuh dan merasakan sakit, kadang kita malas untuk belajar lebih lagi. Dan yang kedua, dengan berjalan, mungkin saya bisa melihat lebih banyak lagi tentang tempat-tempat yang sebenarnya dekat tapi tak pernah kita kenal. Melihat orang-orang yang sebenarnya di sekitar kita namun tak berusaha saya kenal. Beberapa kemungkinan yang mungkin akan menghambat perjalanan juga sudah sedikit terpikirkan. Yaitu adanya kemungkinan bertemu dengan kawanan orang yang disampingnya tergeletak botol-botol miras atau bertemu orang gila. Untuk mengantisipasinya, saya memilih sisi jalan yang penuh dengan toko-toko ramai, saya rasa aman. Tapi ternyata, saya melupakan kemungkinan lain yaitu bertemu makhluk berkaki empat yang gemar menggonggong. Entah kenapa saya benar-benar lupa kalau makhluk itu sering membuat kaki saya lemas kalau bertemu. Untunglah kali ini sang tuan dari makhluk itu mengerti perubahan raut muka saya dan langsung menyuruh makhluk itu masuk ke dalam rumahnya.

Tempat itu adalah sebuah Rumah Singgah di kawasan Senen Jakarta Pusat. Sebuah rumah sederhana secara fisik, namun luar biasa hakikat keberadaannya. Tempat yang dikelola oleh seorang perempuan luar biasa ini seolah-olah menjadi sebuah oase di tengah-tengah carut marutnya kehidupan jalanan di ibukota ini. Di sekitar Rumah Singgah itu berderet-deret puluhan rumah-rumah rapat, tak beraturan, dan padat yang ditinggali banyak sekali manusia, itulah yang saya lihat. Namun disitu berdiri sebuah rumah yang menyediakan tempat belajar rutin bagi anak-anak di sekitar tempat itu, tak hanya itu, tempat tersebut juga terbuka untuk siapapun yang ada di lingkungan itu. Seperti sore ini, saya lihat dua orang pemulung yang sedang beristirahat setelah selesai memilah-milah plastik-plastik bekas. Setiap hari pengelola di tempat itu, dengan dibantu oleh beberapa orang dengan segala kesabarannya membantu anak-anak disekitar tempat itu untuk belajar, tak sekedar baca tulis latin dan baca tulis Al-Qur’an, namun juga pelajaran-pelajaran lainnya, ya..mereka tak sekedar mengajar tapi juga berusaha untuk mendidik. Setiap kali teringat tempat ini, ada banyak rasa yang selalu muncul, tentang rasa syukur tak terkira, tentang sebuah pelajaran betapa di sekitar kita terlalu banyak kesenjangan, tentang mereka-mereka yang begitu peduli dan luar biasa, tentang mereka yang harus bertahan hidup dengan cara tidak muda sejak usia sangat belia..

Sudahlah, tak perlu berpanjang lebar lagi.. Kawan-kawan,mungkin sudah terlalu banyak ajakan yang serupa, namun kali ini sambil mengajak dan mengingatkan diri saya sendiri, tak ada salahnya kita mencoba untuk juga turut peduli dengan mereka. Pada hari Rabu, 12 Januari 2011 pukul 17.45 nanti kami mengajak rekan-rekan yang berkesempatan untuk berbagi dan bersilaturahim ke Rumah Singgah tersebut (silaturahim dilanjutkan Sholat Maghrib berjamaah). Partisipasi bisa diwujudkan melalui donasi ke Rekening Bank BRI an Lilis Tisnowati (0359-01-017775-50-8). Donasi tersebut nantinya akan diwujudkan dalam bentuk alat tulis, sembako, dan dana bantuan untuk pengelolaan. Bagi rekan-rekan yang berkesempatan turut serta bersilaturahim ke Rumah Singgah tersebut serta sebagai konfirmasi donasi (mohon konfirmasi ya bagi para donatur), bisa dikirim via sms ke 081386446279 atau ke lilis.tisnowati@gmail.com untuk informasi lebih lanjut.

Rabu, 15 Desember 2010

Aku, Lelap, dan Hujan

Lirih,
Gerimis itu perlahan mengusik lelapku,
Ah, lelap yang mana? Dari tadi aku hanya menutup mata,
Berharap gelap akan membawa ingatanku turut serta,
Apa bijak kalau kadang berandai bahwa mantra lupa tak sekedar ada di sebuah cerita,
Memilin kenangan, meletakkannya di sebuah bejana, lalu membuangnya.
Kurasa tidak !

Dan gerimis pun tlah jadi hujan,
Menghujani malam yang tak jua membuatku tak terjaga,
Apa karena aku terlalu mencintai hujan lalu tak rela kehilangan senandungnya?
Ingin selalu menyatu dalam harmoninya, terbawa dalam gemericik tetesannya.

Dan hujan itu pun kini hanya menyisakan rintik-rintiknya,
Tapi galau tak juga membuat lelap bersedia menyapa,
Kembali terbersit tanya, apa aku sesungguhnya menanti pelangi yang mungkin akan tercipta setelah hujan reda?
Tak masuk logika, karena pelangi hanya tercipta jika dan hanya jika ada cahaya mentari yang menembus sisa-sisa air hujan.

Lalu kenapa masih juga terjaga?
Karena tak berani kah aku meyakini bahwa musim hujan masih akan selalu berulang?
Bahwa besok, lusa, atau nanti aku akan tetap bisa merekam tiap rintiknya, kugubah jadi nada merdu yang berhasil menutupi pilu.

Kamis, 21 Oktober 2010

Sebuah Fiksi

Bunda, Bangunkan Senja di Esok Nanti

Hujan deras siang tadi masih menyisakan gerimis di luar sana, suaranya lirih namun teratur, indah sekali. Pun bagiku yang masih menatap kosong ruangan ini, bersama gadis yang cantik sekali, secantik namanya, Senja. Senja adalah putriku satu-satunya, yang teramat aku cintai dengan segenap rasa yang aku punya.

“Bunda, kok belum tidur juga? Senja kan sudah baikan."

“Iya,kalo ngantuk, Bunda pasti tidur. Senja belum ngantuk?”

“Belum, kalau gitu boleh Senja nanya Bun?”

“Kenapa sayang?”

“Bunda, kata orang sabar itu ada batasnya, lalu kalau kita sudah mencapai batas kesabaran itu bagaimana? Misalnya kalau kita merasa sakit, dimana kita tahu kalau kita sudah berada di batas kesabaran untuk menahan rasa sakit itu?”

“Sayang, itu kan kata sebagian manusia, kita dengar perkataan Allah saja ya. Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika diantara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (otrang musuh); dan jika diantara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah.Allah beserta orang-orang yang sabar.1) Nah, berarti kalau kita ingin bersama Allah berarti sabar itu tak boleh ada batasnya. Mungkin bagi Bunda dan kamu, sabar itu sangat sulit, setidaknya kita belajar untuk bersabar. O iya, betapa banyak kemenagan yang diraih justru karena kesabaran, contohnya perang Badar. Kita pun merayakan hari kemenangan setelah berlatih kesabaran dalam berpuasa selama sebulan bukan? Bahkan Thomas Alfa Edison tidak akan menjadi penemu kalau dia membatasi kesabarannya.

“Hehe...Senja jadi malu. Bunda, tapi apa iya Senja bisa bersabar ya kalau misalnya Senja sakit tapi tidak ada Bunda disini?”

“Tentu saja sayang. Kalau menurut Bunda, selama kamu percaya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.2), maka semua hal akan terasa biasa saja, mungkin tidak mudah, tapi bukan berarti kita tidak bisa melewatinya.”

“Iya Bunda, tapi kadang Senja sedih kalau misalnya suatu saat Senja harus kuliah di tempat yang jauh, Bunda yang jadi sendirian. Kenapa ya Bun, kalau menurut Senja, jauh lebih sedih melihat orang yang kita sayangi sedih daripada kita sendiri yang sedang sedih.”

“Bunda juga begitu, tapi bukankah kita mencintai orang lain itu dalam rangka mencintai Allah Nak? Jadi yang terpenting buat kita adalah bagaimana orang itu juga dicintai oleh Allah. Bagaimana kita berusaha menjadikan diri kita membawa kebaikan buatnya. Hanya hati yang menentukan jarak. Kalaupun suatu saat Senja berada jauh dari Bunda, apakah berarti Bunda akan kehilangan cinta itu? Tidak sayang, Bunda mencintaimu karena Allah, jadi Bunda akan siap melepaskanmu untuk jauh dari Bunda, tapi Bunda tak akan sekalipun membiarkanmu jauh dari Allah.”

“Bundaaaaa......Senja sayaaaang sama Bunda.”

“And i love u more than you know Hun.....”

“Bunda, Senja sudah mulai ngantuk, bangunkan Senja di esok hari ya, sebelum subuh, Senja mau sholat dulu sebelum subuh.”

“InsyaAlloh, ...tidurnya sambil tersenyum ya Nak, kata orang kalau kita tidur sambil tersenyum, maka hati akan menjadi lebih lapang, lalu kita akan bangun pagi dengan perasaan yang lebih lapang pula.”

“Iya Bunda”
Aku melihatnya terlelap perlahan. Dia benar-benar menutup matanya sambil tersenyum, cantik sekali. Lalu pandanganku beralih ke sebuah tas di meja itu. Di dalamnya ada hasil pemeriksaaan terakhir keadaannya. Hatiku perih sekali, kanker darah itu entah sudah berapa lama membuatnya sakit. Tapi putriku tak pernah mengeluh, bahkan dia yang menguatkanku. Entah kenapa malam ini aku tak mengantuk sama sekali. Aku ingin menatapnya sampai ia bangun nanti”

“Senja, sudah jam 3, Senja mau bangun sekarang atau pas Subuh saja?”

“Hoahem...iya Bunda, Senja bangun sekarang saja.Tunggu Senja wudhu dulu ya Bunda”
“Iya”

Gadisku bertadarus hingga Subuh. Dan Subuh kali itu tak akan pernah kulupakan. Ketika aku selesai mengucapkan salam, Senja sudah roboh, Senja ternyata sudah pergi menghadap penciptanya. Ternyata ini adalah shalat terakhirku bersamanya, tapi aku berharap akan dipertemukan lagi dengannya,...suatu saat nanti.

Senja, mungkin aku telah kehilanganmu, tapi tak ada yang harus selalu aku tangisi, bukankah terlalu lama menangisi perpisahan berarti menyesali perjumpaan? Bahkan aku sangat bersyukur meskipun akhirnya harus kehilanganmu, sebab merasa kehilangan berarti kita telah diberi kesempatan untuk merasa memilikimu. Ya, aku bersyukur pernah ada bersamamu.

1) QS Al-Anfal ayat 66
2) QS Al-Baqarah ayat 286

#Sebuah fiksi di awal hari , 22 Oktober 2010

Kamis, 14 Oktober 2010

Izinkan Aku Bertanya

Izinkan aku bertanya tentang tetes hujan yang begitu harmonis membuat senandung yang sendu
Izinkan aku bertanya tentang mentari yang senantiasa menciptakan pelangi bersama titik-titiknya
Biarkan aku bertanya mengapa penciptaNya menciptakannya bergantian, berbeda, namun saling ada satu sama lainnya
Ingin aku bertanya pula tentang lara, luka, tawa, dan cinta
Yang keniscayaannya adalah nyata namun tak terkata
Biar saja aku bertanya lewat pena meskipun aku jawabannya tak pernah bisa terbaca

Sabtu, 04 September 2010

Gadis cantik itu bernama Nabila...

01.30 @Salahudin KPDJP

Orang-orang bergantian bertilawah, qiyamul lail, dan sejenak tertidur. Suasana khusyuk benar-benar memenuhi ruangan itu. Sejenak kuhentikan bacaanku, tawa riang seorang gadis kecil yang sangat ayu mengusikku...Dia merangkak, kadang berjalan beberapa langkah, tersenyum, dan berceloteh tak jelas, namun sangat lucu..Kuhampiri dia dan wanita cantik yang pasti adalah bundanya.

"Wah, kok jam segini belum tidur Mbak?"
"Iya, dia tidurnya nanti setelah subuh Mbak.."
"Eh, namanya siapa ini?, udah ada 1,5 tahun Mbak?"
"Namanya Nabila, baru 13 bulan Mbak."
Dan kami pun ngobrol sampai 1 jam lebih.

Namanya Nabila, cantik sekali,matanya bulat,bulu mata yang panjang lentik, pipi yang tembem, dan suka tersenyum serta tertawa,semakin cantik dgn jilbab lucu yg dikenakannya. Namun selain itu, aku sangat tertarik dengan wanita cantik yang telah melahirkannya.Dia wanita yang cerdas, sabar, ramah, dan sangat lembut. Yang memberiku pelajaran tentang kesabaran yang tak sekedar wacana di awang-awang, kesabaran yang sederhana yang kadang justru sering tdk kita temukan. Tiap malam gadis kecilnya itu tak tidur sebelum subuh,sementara suaminya seringkali pulang setelah larut malam karena pekerjaan di Direktoratnya yang mengharuskannya lembur hampir tiap hari. Subhanallah....
Cara dan cerita beliau memperlakukan putri cantiknya mengingatkan saya tentang kejadian beberapa waktu lalu d kantor saya, dimana seorang anak kecil yang sedang menangis merajuk justru dimarahi dan ia semakin menangis sejadi-jadinya.Saya tak bisa begitu saja menyalahkan sikap itu, karena lagi-lagi saya tidak tahu seperti apa kondisinya saat itu, namun sepertinya sikap yang palng bijak adalah yang ditunjukkan oleh wanita luar biasa ini..memandang sesuatu hal, kesulitan, dan bahkan kebahagiaan sekalipun sebagai ujian kesabaran...Subhanallah...

Thanks to Mbak Wulan yang telah bersedia sharing pikiran luar biasanya..Dan juga Nabila gadis kecil tercantik yang pernah saya lihat....

Kamis, 02 September 2010

Aku, Luka, dan Sang Waktu

Kugoreskan ujung pena,
Kucoba tuangkan segenap asa yang tlah mulai kehilarangan laranya
Yang mencoba berdiri, berjalan, bahkan berlari
Itu semua karenamu, Sang Waktu

Luka itu memang membiru, tapi tak sepilu dulu
Kehilangan itu hanya menyisakan bait-bait sendu yang ternyata menguatkanku
Lalu meyadarkan bahwa ketidakberartianku baginya hanya membuatku semakin ingin berjalan jauh bersamamu wahai Sang Waktu

Kau yang tlah menyembuhkan sakitku
Kau yang tlah mengeringkan lukaku
Kau yang tlah memberiku sejenak terpuruk, kemudian memberiku asa yang baru
Semua itu karenamu Sang Waktu

Lalu menyadarkanku betapa agungnya pemilikmu.

Jumat, 30 Juli 2010

Aku dan Kabut di Matamu

Dingin…
Beku…
Berkabut….
Sendu…

Kutatap lekat dua mata itu,
Aku hanya mau tau, apakah tlah benar-benar hilang asamu?
Kutersenyum dalam getir, kuharap sampai rasaku ke dalam rasamu
Katakan apa yang bisa aku lakukan, untuk mengurangi muram-mu itu?
Sungguh ingin kulihat senyummu.
Agar malam nanti aku lelap mengukir mimpi,
Agar esok hari tatapanmu tak membuatku menahan perih.

Kau tak pernah perhatikanku yang tlah enam bulan memperhatikanmu
Dan baru kali itu kuberanikan jiwaku menyapa jiwamu
Kuberanikan bertanya namamu
Kuberanikan mendekat dan menatap bening matamu yang tertutup kabut

Dan seminggu lalu kau masih disitu..
Maaf bila ku tak menyapamu.
Karena kau tertidur di samping gelas plastik kumalmu.

Iya, benar kata penulis itu..
Fakta memang terkadang bisa lebih aneh ketimbang fiksi sekalipun
Kau hanyalah satu dari beribu-ribu..
Dan apa dayaku
Bahkan aku merasa lebih kecil dibanding anak berusia tujuh tahun sepertimu..
Yang tiap pagi kau sempat menuntut ilmu, dan di sore hari berada di lorong itu demi ibumu…

Namun sejujurnya aku malu padamu.
Aku malu karena tlah berhari-hari mengeluh
Mengeluh kepiluanku yang bahkan mungkin tak seberapa dibanding perihmu
Aku malu karena terpuruk oleh sembilu yang tak seberapa dibanding semua hal indah untukku
Aku malu, aku malu….

Namun demi detik ini
Aku akan bangun, melihat cermin yang memperjelas kerapuhanku, mencuci mukaku, dan minta ampun pada Penciptaku.
Agar dikuatkan lankahku
Agar disampaikan usiaku, hingga mampu kudengar sayup sahur yang sebentar lagi kita jemput.

Jumat, 23 Juli 2010

Aku dan Kehilangan

Sesak ini seketika tiba…
Perlahan meluruh, merapuh, dan menjadikan mozaik itu semakin berkeping.
Laksana pucuk cemara yang ditinggalkan punainya
Aku kehilanganmu, engkau terenggut tanpa pernah kumiliki
Kau yang jauh semakin jauh tak tersentuh

Tapi apakah harus sampai disini dayaku?
Tak jua sayang….
Aku akan beranjak meski pelan
Tetap terbang meskipun sebelah sayapku terluka
Karena sejak awal tak pernah kusematkan kata jatuh sebelum kata cinta, maka aku tegar
Sejak semula aku pun tahu bahwa engkau hanya fatamorgana

Aku juga sadar sepenuhnya bahwa luka ini aku yang sengaja
Sejak mula aku tahu tlah di tepi jurang, namun kusingkirkan batu pegangan
Dan kini terhempas sudah segenggam asa

Tapi tentu tak sia-sia setiap cerita
Karena Dia ingin memarahiku tak lewat bahasa semata
Agar aku sadar dan tahu diri
Tlah jauhlah sangat diri ini dari cinta-Mu, berani-beraninya berharap kasih yang baru
Tapi sungguh kini aku tahu diri
Dan aku ingin Engkau kasihi lagi….

Kamis, 22 Juli 2010

Sebuah fiksi, tentang Azalea…

Azalea,..pasti Bunda tak sekedar saja memberi nama. Ia pasti menginginkan Azalea-nya punya sifat seperti bunga itu, anggun namun tak angkuh, mempesona namun bisa hidup dimana saja. Tapi lebih dari itu, bagi Bunda, Azalea begitu istimewa. Azalea dengan segala keterbatasannya, yang tak pernah mendapat kesempatan melihat dunia dengan sempurna, tak pernah mendengar dunia dengan sempurna, dan bahkan tak pernah bisa mengungkapkan apa yang ada di hatinya tentang dunia.

Tapi bagi Azalea, yang tak tahu bagaimana mengungkapkannya, ia merasa Penciptanya begitu menyayanginya sehingga geraknya dibatasi agar tak turut merusak dunia, suaranya dibatasi agar tak turut menyalahkan keadaan, pendengarannya dibatasi agar tak perlu mendengar orang mencibirnya, bahkan kemampuan organ tubuhnya dalam merefleksikan apa yang dirasakannya pun dibatasi sehingga reaksi tubuhnya tak sesuai dengan apa yang ingin ia utarakan. Namun bagi Azalea, Tuhan sangat sayang padanya.Ya, Tuhan sangat menyayanginya, ia sangat percaya karena berbagai alasan,..

Karena ia punya Bunda, wanita luar biasa, yang tak pernah berhenti mencintainya, yang tegar membesarkan anak-anaknya tanpa seorang suami, ayah yang tak pernah sempat ia kenal. Bunda yang tak pernah marah padanya meskipun terkadang sepiring nasi dan segelas air yang disediakan, dilemparkan Azalea begitu saja di kolong meja. Kalau saja Bunda tahu, bukan itu maksud Azalea, Azalea sungguh ingin memakannya, namun ketika sentuhan lembut Bunda menghangat di tangannya, entah kenapa tubuhnya berontak, reaksi marah yang keluar. Kalau saja Azalea punya kesempatan, ia ingin bilang, ”Bunda, bukan itu maksud Azalea..” Namun tanpa penjelasan itupun Bunda selalu mengerti, bahwa Azalea menyayanginya, lebih dari yang ia kira. Bunda yang dalam hidupnya selalu menempatkan anak-anaknya diatas segala kepentingannya, Bunda yang hampir setiap malam terisak-isak diatas sajadah,dan demi merasakan tulusnya do’a Bunda, justru yang keluar dari mulut Azalea adalah erangan-erangan marah yang mungkin bagi orang selain bunda itu sangat menyebalkan. Sekali lagi, sungguh bukan itu maksud Azalea. Tapi bukan Bunda kalau tak memeluk Azalea dengan hangat, mengelus rambut Azalea dengan lembut, dan membisikkan sebuah kalimat “Bunda sayang sama Azalea, mudah-mudahan Allah juga selalu menyayangi kita Nak”.

Karena ia punya Anah, perempuan yang telah 25 tahun membantu Bunda mengurus rumah, dan tentu saja membantu mengurus anak-anak Bunda. Terkadang memang Anah marah padanya, tapi itu wajar, siapa yang akan selalu sabar menghadapi Azalea yang tak tentu reaksinya, kecuali Bunda tentu saja. Tapi Azalea tak pernah marah dengan Anah, karena Anah yang membawa Azalea jalan-jalan jika Bunda bekerja. Dan karena itu Azalea bisa melihat dunia, meskipun tak sempurna. Azalea bisa melihat seorang pria yang hampir tiap hari termenung di bangku taman kota itu sambil menunggu kendaraan umum yang membawanya pulang ke rumahnya. Pria yang memandangnya prihatin, namun tak ambil pusing. Sorot mata itu banyak ia lihat di sekitar tempat itu, pria-pria dan wanita dengan rutinitasnya yang hampir sama tiap harinya. Yang tiap pagi turun dari kendaraan menuju tempat kerjanya, dan sore harinya menunggu kendaraan yang mengantar pulang ke rumahnya. Ingin sekali ia menyapa mereka, berkawan dengan mereka, namun ketika ia menatap mereka, justru tatapan kosong yang dilihat oleh mereka.
Dengan Anah pula Azalea melihat ironi itu, sebuah monumen kebanggaan negeri ini, namun coba saja berjalan kaki tak jauh dari tempat megah itu, dan akan tampak deretan rumah kumuh di tepian rel kereta api, dengan penghuni berdesakan. Andai saja Azalea bisa bilang, dia ingin sekali berteriak, inilah monumen sesungguhnya negeri ini,bukan tugu yang menjulang tinggi itu.
Anah pula yang membawanya ke jembatan penyeberangan itu, yang disampingnya berdiri sebuah pusat perbelanjaan. Azalea tak suka pusat perbelanjaaan itu, ramai, dan hampir seluruh mata memandangnya berbeda. Namun di jembatan penyeberangan itu hati Azalea terusik, puluhan anak tiduran dengan gelas-gelas plastik di sampingnya. Tentu saja mereka tak sedang main congklak, mereka mengharapkan ada yang memasukkan uang ke dalam gelas plastik itu. Azalea ingin sekali bertanya, ”Bukankah di sekitar rumah kita, anak-anak seperti mereka memakai seragam putih-merah dengan dasi lucu dan topi yang kebesaran?”. Meskipun mereka memandang dan bahkan menjadikan Azalea sebuah olok-olokan, namun Azalea tiba-tiba menyayangi mereka, makhluk-makhluk kecil yang harus memaknai waktu bermainnya dengan miris. Sakit sekali hati Azalea jika rekaman sorot-sorot mata itu berkelebat di benaknya.

Dan Azalea punya Jingga. Gadis yang lahir dari rahim yang sama dengannya. Gadis yang baginya teramat istimewa. Jingga yang dulu seringkali dicakar dan dijambak rambutnya. Namun sungguh, Azalea tak bermaksud menyakitinya, karena tanpa sadar reaksi itu yang keluar. Saat itu kadang Jingga kesal dan mencubit pipinya, tapi tak berarti Jingga marah, Jingga tak pernah marah pada Azalea. Cintanya pada Azalea seluas samudra, entah karena pernah bersemayam di rahim yang sama, atau karena Jingga memang tak pernah marah.
Jingga yang sering dilihatnya memandang cakrawala di kala senja, dan dirasakannya bahwa rasa syukur yang nampak dari sorot mata itu ketika mentari dengan anggunnya tiba-tiba menghilang. Dan setelah itu, Jingga pasti berwudhu, iseng memercikkan air ke Azalea, lalu bilang, ”Sholat dulu ya, Azalea juga mau sholat kan? Allah tahu itu kok”.
Jingga yang selalu suka hujan, dan kelamaan aku tahu alasannya. Karena hujan selalu menyamarkan air matanya dan menyembunyikan isaknya. Jingga adalah gadis yang tegar, gadis yang cerdas, dan tak pernah menyalahkan keadaan. Gadis yang mengalahkan suasana dengan segenap rasanya. Yang menjadi sahabat sekaligus putri Bunda dalam menapaki masa. Yang bekerja keras menyelesaikan kuliahnya dengan menterjemahkan ribuan lembar buku-buku tebal, menawarkan kerudung-kerudung ke teman kuliahnya, bahkan menberima pesanan kue lebaran. Bunda tak pernah memintanya, tapi bukan Jingga kalau tak membaja dengan keinginannya.
Namun bagi Azalea, tak pernah ada sembilu yang mengiris hatinya teramat dalam kecuali ketika menyaksikan Jingga bersimpuh di pekatnya malam. Karena Azalea mengerti bahwa di dalam do’a itu ada dirinya, ada bundanya, yang selalu disebut oleh Jingga. Dan Jingga meminta cinta dan ridha untuk keduanya. Cinta dan ridha dari Sang Pencipta, adakah do’a yang lebih indah dari dua hal itu?
Dan satu lagi makna isakan-isakan Jingga di keheningan itu, curhat-nya pada Sang Pencipta tentang seseorang yang sangat berarti baginya, seorang laki-laki yang istimewa di matanya. Yang meskipun bagi dunia, dia hanyalah seseorang, namun bagi Jingga, dia adalah bagian penting dari dunianya. Yang tak pernah diketahui siapapun, bahkan oleh Bunda. Yang disimpannya rapat di sudut hatinya, yang dimintakannya segala cinta pada Sang Pencipta, yang dikirimkannya bait-bait rindu lewat bening air matanya. Namun bersamaan dengan setiap isakan itu pula Jingga melepasnya, meminta agar Sang Pencipta memberikan keikhlasan di hatinya, kelapangan untuk membiarkannya perlahan hilang dari ingatannya. Dan bagi Azalea, Jingga di saat seperti itu sangat ingin didekapnya, sangat ingin dibisikinya dengan sebuah kalimat, ”Jingga sayang, aku juga tak tahu kemana semuanya akan bermuara, namun satu hal yang pasti, kalaupun dia tak diciptakan untuk mendampingimu, percayalah bahwa engkau tetaplah orang yang sangat beruntung, kerena kau hanya akan kehilangan seseorang yang tak mempedulikanmu, tapi dia kehilangan seseorang yang mengasihinya dengan luar biasa”.
Jingga, tak salah jika Bunda memberimu nama itu, engkau memang seanggun dan semegah warna jingga di kala senja, yang meneduhkan, yang tak pernah sedikitpun menyimpan kemarahan, tak pernah menyembunyikan benci, menguraikan kecewa dengan pemikiran sederhana, dan yang memaknai setiap hari hanya untuk satu tujuan, cinta-Nya. Kalau Azalea dilahirkan kembali, dia ingin sekali tetap berada di samping Jingga dengan segala ketidaksempurnaannya sebagai manusia, namun memiliki jiwa yang damai luar biasa.

Dan bagi Azalea, semua yang dimilikinya itu terlampau cukup untuk tak menggugat pada keadaan. Segala keterbatasannya adalah bukti kesempurnaan Penciptanya. Yang mencintai Azalea dengan cara yang kadang tak dimengerti manusia.

Sabtu, 04 Juli 2009

Rindu...Rindu.....

Rindu.....rindu.....
Itulah yang aku rasakan teruntuk kalian..
Dua orang terkasih yang melalui mereka aku ada di dunia ini atas kuasaNya...
Seorang wanita berhati luar biasa, penuh ketegaran bahkan di setiap air matanya....
Seorang laki-laki tak terganti di hatiku, yang dalam hidupnya tersemat cinta mendalam teruntuk keluarganya....

Seorang wanita yang jika ku pinta do'a darinya bak menggarami lautan, karena tanpa itu pun aku yakin slalu terucap do'a untukku di setiap sujudnya...
Seorang laki-laki yang tanpa aku berkata apapun, dia tahu manakala ku sedang bahagia, bangga, bahkan kecewa...

Seorang wanita yang disetiap nasihatnya tersimpan pesan untukku untuk selalu berebut untuk mengalah...
Seorang laki-laki yang senantiasa berpesan untukku agar tak terlalu mencintai dunia dan agarku senantiasa mencintai Alloh dan RasulNya melebihi apapun bahkan dirinya...

Seorang wanita yang dari rahimnya tlah lahir tiga orang anak manusia yang selalu menjadi anak manis untuknya...
Seorang laki-laki yang dalam setiap tindakannya tersirat nasihat untukku bahwa bermanfaat bagi orang lain adalah cita-cita nya dalam hidup di dunia...

Seorang wanita yang tiap hari tak lupa menyampaikan perhatiannya untukku meskipun 700 km lebih aku berjarak dengannya...
Seorang laki-laki yang selalu ada untukku, tanpa pernah aku minta sekalipun...

Seorang wanita yang tak pernah lelah lelah mendidik anak-anaknya meskipun berpuluh-puluh anak lain juga menyita perhatiannya....
Seorang laki-laki yang sering ku lihat air matanya menetes di pekatnya malam, namun hanya beberapa kali air mata itu ku lihat di siang hari, dan salah satunya menetes untukku, ketika melihatku sakit kala itu....

Ya Rabb,...cintailah mereka, hapuskan dosa-dosa mereka..., sampaikan salam, rindu dan cintaku ini meskipun melalui mimpi semata...
Aku mencintai mereka...teramat sangat....mencintai mereka karena Engkau semata....

Sabtu, 16 Mei 2009

MEMBUKA LEMBARAN-LEMBARAN LAMA…..

Bismillah…
Alhamdulillah…
Subhanallah…

Pagi ini, aku terbangun pukul 04.30, aku awali hariku dengan subuh seperti biasanya… Namun agak lain dari biasanya, kerena setelah itu hp ku berbunyi, panggilan dari seorang kawan yang telah berada di pulau ujung timur Indonesia. Alhamdulillah, beliau mengabarkan bahwa keadaannya baik-baik saja,..do’a dan harapanku juga senantiasa teriring untuk kalian, kawan-kawan yang tlah mulai menjelajah negeri ini, dari ujung barat hingga ujung timur…
Setelah obrolan itu berakhir, aku melihat kardus berisi tumpukan kertas dan buku yang aku pun lupa isinya. Untuk mengurangi kepadatan kamar kostku, aku berniat membuat tumpukan itu berpindah ke bak sampah di depan kost, namun tentu saja harus melalui sebuah proses bernama “sortir”.
Aku sama sekali tak menyangka bahwa di tumpukan paling atas ternyata ada 2 buah binder, satunya berukuran besar dan satu lagi berukuran kecil. Kubuka binder besar itu yang ternyata berisi catatan2 kuliah, aku merasa heran karena ternyata aku pernah menulis catatan2 itu, lalu dimana sekarang ingatanku tentang materi2 yg terangkum disitu, yah..begitulah, dahulu tdk mengerti dan sekarang lupa. Lalu aku lihat binder kecil yang ada disitu, aku tersenyum melihat isinya, catatan2 kegiatan organisasi dan kepanitiaan semasa kuliah…rasanya baru kemarin aku menulisnya… Dan aku memutuskan tak akan membuang 2 binder itu, karena sepertinya masih bisa aku pakai lagi nanti..
Lalu aku lanjutkan dengan tumpukan kertas2 di bawahnya, aku tersenyum lagi, ternyata isinya masih hampIr sama, notulensi, rundown, dan catatan2 tentang sebuah acara 2,5 tahun yang lalu, NAC 2007..aku lalu mengingat rekan2ku di kepanitiaan itu, terutama Registrasi Full Spirit..Mbah Juni, Niken, Iqbal, Vitry, Fitri, Toni, Erwien, Mas Oktora, Mbak Kiki, Mbak Putri, Helmi, dan Lia. Sungguh, pengalaman bersama kalian adalah salah satu yang takkan terlupa untukku, betapa aku belajar dari kalian tentang arti sebuah usaha, harapan, dan persahabatan. Pencarian peserta yang penuh ketidakpastian, satu persatu hingga mencapai angka hampir ratusan… lalu dilanjutkan dengan pelaksanaan acara yang sungguh takkan pernah terlupa.
Setelah itu di tumpukan berikutnya aku temukan catatan tentang sebuah kegiatan rutin di Paspilo, Invasi..Wow, untuk beberapa saat aku terdiam,.2 kali aku mengikuti kegiatan itu. Sebuah kegiatan luar biasa menurutku. 3 Tahun sudah sejak pertama kali aku mencoba untuk menjadi bagian di dalamnya. Setahun setelahnya kembali bergabung di dalamnya. Masih aku ingat dengan jelas saat-saat itu.. Bagaimana aku seringkali meminta bantuan Paspilovers2 untuk menjelajah Purwokerto, Pati, Semarang, dan sekitarnya. Dan aku juga tak mungkin lupa, perjalananku, sendirian menjelajah Yogyakarta di tengah liburan akhir pekan perkuliahan. Mungkin hanya aku yang akan tahu betapa berharganya pengalaman itu bagiku.. banyak hal yang aku dapat setelah melewati masa-masa itu, keindahan sebuah proses. Bahwa semuanya memang tak mudah, namun semuanya indah. Teruntuk Paspilovers yang semua yang terlibat dalam acara itu, ingin aku katakan bahwa dalam persiapannya tak selalu kita sependapat, seringkali muncul ketidaksepahaman, bahkan ketidakpuasan mewarnainya, toh semuanya bisa berjalan dan sampai kini kita tetap baik-baik saja, bahkan kita lebih mengenal dari sebelumnya. Joko, Topik, Rico, Tien, Cenul, Mbak Ita, Mbak Iyan, Yunita, Ega, Razta, Siwi, Ridho, Arya, Gala, AW, Togel, Juni, Dimpil, Terong, Sukses, Ahmad, Hafidz, Nopy, Hari, Adit, Bintang, Sisca, Robbit, Bedu, Iman, Emon, dll…. Mudah2an setelah ini kita berkesempatan untuk bertemu lagi, meskipun beberapa dari kalian juga telah menjelajah pulau2 di Indonesia ini, dan mungkin sebentar lagi akan kuikuti penjelajahan kalian di pulau seberang…
Di bagian akhir tumpukan itu aku temukan segala hal tentang IMP, organisasi kampus yang aku ikuti. Tak terasa itu juga setelah berlalu, namun masih aku ingat juga saat2 itu. Saat2 aku belajar bahwa banyak sekali orang2 luar biasa yang ada di kampusku. Dua tahun juga aku mencoba belajar di dalamnya, meskipun sampai saat ini aku merasa pembelajaran di dalamnya belum selesai, namun aku marasa beruntung pernah berada di dalamnya, meskipun aku tak bisa memberikan apa2. Satu hal yang akan selalu aku kenang, orang2 orang yang aku kenal di dalamnya adalah orang2 biasa dengan karakter yang luar biasa…

Akhirnya telah aku pisahkan lembaran2 itu, meskipun ternyata tujuanku untuk mengurangi kepadatan serta melapangkan kamarku tidak sepenuhnya berhasil karena sebagian masih akan aku simpan. Dan aku berharap di tumpukan2 lain yang belum sempat aku buka kembali, nantinya akan ku temukan lembaran-lembaran lainnya. Namun aku merasa hatiku yang terasa lebih lapang dari sebelumnya. Karena tiba2 kepenatan yang aku rasakan malam sebelumnya tak ada artinya jika dibandingkan kenangan yang aku dapat kembali dibalik lembaran2 lama itu. Rasa lelah, bosan, kesal, dan bibit2 prasangka yang aku rasakan malam sebelumnya pun seolah tak bermakna. Kita memang tak hidup untuk masa lalu, tapi untuk masa depan, namun tak ada salahnya jika yang tlah lalu itu kita jadikan tambahan energy untuk menatap masa depan, untuk senantiasa berusaha menjadi yang dicintaiNya, karena tak ada gerak kecuali atas izinNya.

Rabu, 22 April 2009

Di hari itu......

Bismillah....

Saat hati terasa menyempit, terkadang menulis adalah suatu solusi...Hanya menulis, entah tulisan itu terbaca ataupun tidak. Entah tulisan itu dipersepsikan berbeda, itu urusan belakangan... Yah, sebagai orang biasa, orang yang masih amat sangat butuh belajar...ingin kutulis lagi sebagian penat ini, penat yang mungkin hanya karena sedikitnya pengetahuan yang aku miliki...

Di hari itu, hari biasa yang aku mulai dengan harapan agar luar biasa, hari dimana ternyata ada yang harus berubah. Arah ini harus diluruskan kembali, bukan berbalik, bukan berbelok, tetap ke arahnya semula, namun mungkin aku harus melalui jalan yang berbeda. Karena memang terkadang apa yang kita rencanakan tak selamanya akan terwujud. Yang terpenting adalah bagaimana tujuan itu selalu menuju ridha-Nya, dilaksanakan dengan cara yang baik, dan menjadikan kebaikan pula bagi orang lain... Hanya itu inginku....

Tapi ternyata tak selamanya pula itu terasa mudah, toh aku hanyalah manusia biasa yang sangat tak sempurna, yang kadang merasa tak sanggup lagi berlari, bahkan harus tertatih untuk melangkah, namun selama asa ini tak padam, aku akan berdiri lagi, untuk berlari lebih cepat, dalam ketidaksempurnaanku..Karena yang penting untukku adalah belajar dan berusaha menjadi lebih baik, karena kesempurnaan hanya milikNya...

Jumat, 06 Maret 2009

Asa itu masihkah ada??

Ketika pagi itu kulihat kabut mulai turun dari lembah di Timur sana, tlah kuyakini bahwa setelahnya aku kan menyapa sang mentari dengan bahagia..
Dan ketika itu pula, embun yang dingin tlah membuatku memilih untuk membuka jendela..
Agar dinginnya membuatku membuka mata..

Dan ketika perlahan kabut itu tlah menyapa hatiku, aku rasakan dingin itu membuatku ingin beranjak..
Bukan untuk kembali menutup jendela, tetapi untuk mengejarnya..

Karena asa itu masih ada...

Jumat, 20 Februari 2009

Interaksi harus dengan toleransi....

Bismillah...
Semoga yang kan tertuang bukan karena prasangka, yang kan tertulis bukan karena amarah, dan yang tergores bukan pula karena emosi semata....

Setiap hari adalah perubahan, setiap saat itu pula kita senantiasa menjalaninya, karena memang hakikatnya, bahwa waktu takkan pernah memberi toleransi. Dan dalam jalannya, tak selamanya terasa mudah, kadang bahagia, dan tak jarang, kita jumpai kecewa di dalamnya...
Masa depan adalah yang senantiasa kita tuju di setiap waktu, "impian" itulah sebagian kita menyebutnya.. Dan dalam meraihnya kita toh takkan pernah sendirian karena Yang Diatas dengan segala kesempurnaannya tlah membuat semuanya begitu luar biasa. Dia menciptakan amat banyak manusia di muka bumi ini. Berbagai karakter kita jumpai di setiap hari,.. butuh sebuah interaksi, dan tak cukup hanya sebuah interaksi, yang terpenting adalah toleransi. Toleransi yang tumbuh dalam kebebasan hati, bukan oleh tirani...

Setiap makhluk tercipta atas kuasaNya, dan beribadah padaNya adalah sesuatu yang mutlak, karena Dialah Sang Pemilik Segala Kehidupan ini. Semua tujuan kita, Dialah hakikatNya. Namun dalam menjalaninya, kita senantiasa berjalan bersama ciptaanNya. Terkadang dalam persamaan itulah kita harus bisa membawa diri kita, tiap kepala punya isi yang berbeda. Tiap manusia punya penilaian tersendiri terhadap hidupnya, itulah yang terkadang menimbulkan ketidaksepahaman. Dan bahkan terkadang timbul prasangka diantaranya...

Dan kitalah yang akhirnya memutuskan, akan menilai orang lain seperti apa, dengan prasangka baik atau burukkah. Kadang-kadang penilaian yang kita putuskan pun menyebabkan kekecewaan ditengahnya, namun kesabaran adalah kuncinya, meskipun nyatanya, saya sendiripun sangat jauh dalam mempraktekkannya... Karena toh, saya adalah manusia yang sangat biasa,.Namun ada satu yang sangat ingin saya buktikan.
Bahwa sesungguhnya, toleransi itu tak ada batasnya......